PEMBELAJARAN KOOPERATIF
Pembelajaran kooperatif adalah suatu pilihan dalam melaksanakan pembelajaran. Banyak model pembelajaran kooperatif yang dapat dipilih oleh guru dalam berinteraksi dengan siswa untuk membahas sesuatu konsep pengetahuan. Untuk memahami tentang konsep dan langkah-langkah pembelajaran kooperatif, dapat dicermati dalam bahasan berikut ini.
1. Konsep Pembelajaran Kooperatif
Penggunaan pendekatan konstruktivistik dalam pembelajaran menerapkan pembelajaran kooperatif secara luas. Berdasarkan teori ini bahwa siswa diharapkan menemukan kemudahan dalam memahami konsep-konsep yang sulit dengan cara saling mendiskusikan masalah tersebut dengan teman belajarnya.
Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) mengacu pada metode pembelajaran yang menempatkan siswa bekerja sama dalam kelompok kecil yang saling membantu dalam belajar (Slavin, 1995). Lebih lanjut dikatakan bahwa banyak terdapat pembelajaran kooperatif yang berbeda satu dengan yang lainnya. Kebanyakan melibatkan siswa dalam 1 kelompok yang terdiri atas 4 siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda. Pembelajaran kooperatif yang dikemukakan oleh Slavin ini berdasar pada teori Vygotsky, yaitu bahwa anak usia setingkat melakukan kolaborasi dengan tingkat kesulitan berkisar dalam Zona of Proximal Development (ZPD) hasilnya lebih baik dari pada bekerja sendiri-sendiri karena dengan kolaborasi menghasilkan perkembangan kognitif (Moll, 1994). Kolaborasi ini dapat dilakukan dengan teman sebaya (peer colaboration), dan dampak dialog dengan teman sebaya ini adalah terjadinya pertukaran gagasan dengan penuh kerja sama, saling memperoleh kesempatan dan tidak otoriter.
2. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif
Guru memilih pembelajaran kooperatif dalam kegiatan pembelajaran perlu memperhatikan langkah-langkah, agar dapat memperoleh hasil yang optimal. Arends (1997) mengemukakan langkah-langkah pembelajaran kooperatif seperti tersaji pada tabel berikut:
| Fase | Tingkah laku Guru |
| Fase-1 Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa Fase-2 Menyajikan informasi Fase-3 Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar Fase-4 Membimbing kelompok bekerja dan belajar Fase-5 Evaluasi Fase-6 Memberikan penghargaan | Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi lewat bahan bacaan Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah di pelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar idividu dan kelompok |
3. Model-model Pembelajaran Kooperatif
Berbagai macam pembelajaran kooperatif telah dikembangkan dan diteliti yang sangat berbeda antara satu dengan yang lainnya. Model pembelajaran kooperatif yang paling luas dievaluasi (Slavin, 1995) telah memerikan seperti berikut ini.
1. Student Teams Achievement Divisions (STAD)
Student Teams-Achievement Divisions (STAD) atau Tim Siswa Kelompok Prestasi. Dalam STAD (Slavin, 1995), siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan 4 orang yang merupakan campuran menurut tingkat prestasi, jenis kelamin, dan suku. Guru menyajikan pembelajaran, dan kemudian siswa bekerja di dalam tim mereka untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Akhirnya seluruh siswa dikenai kuis tentang materi tesebut, pada waktu kuis ini mereka tidak dapat saling membantu.
Skor siswa dibandingkan dengan rata-rata skor yang lalu mereka sendiri, dan poin diberikan berdasarkan pada seberapa jauh siswa dapat menyamai atau melampaui prestasi yang pernah dicapai sebelumnya. Poin tiap anggota tim ini dijumlah untuk mendapatkan skor tim, dan tim yang mencapai kriteria tertentu dapat diberi sertifikat atau ganjaran yang lain.
2. Team Assisted Individualization (TAI)
Team Assisted Individualization (TAI) atau Pengajaran individual Dibantu-Tim (Slavin, Leavy, dan Madden, 1985) sama dengan STAD dalam penggunaan tim belajar 4 anggota berkemampuan campur dan diberi sertifikat untuk tim yang berkinerja tinggi. Perbedaannya adalah bila STAD menggunakan 1 langkah pengajaran di kelas, TAI menggabungkan pembelajaran kooperatif dengan pengajaran individual.
3. Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)
Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) atau Pengajaran Kooperatif "Terpadu Membaca dan Menulis CIRC (Steven dan Slaviny 1995a) adalah suatu program komprehensif atau luas dan lengkap untuk pengajaran membaca dan menulis untuk kelas-kelas tinggi sekolah dasar. Siswa bekerja dalam 1 tim belajar kooperatif beranggotakan 4 orang. Mereka terlibat dalam serangkaian kegiatan bersama, termasuk saling membacakan satu dengan yang lain, membuat prediksi tentang bagaimana cerita naratif akan muncul, mereka saling membuat ikhtisar satu dengan yang lain, menulis tanggapan terhadap cerita, dan berlatih pengejaan serta perbendaharaan kata. Mereka juga bekerja sama untuk memahami ide pokok dan ketrampilan pemahaman yang lain.
4. Jigsaw
Pada Jigsaw (Aronson, Blaney, Stephen, Sikes, dan Snapp, 1978), siswa dikelompokkan ke dalam tim yang beranggotakan 6 orang yang mempelajari materi akademik yang telah dibagi-bagi menjadi beberapa sub-bab. Sebagai misal, membahas tentang geografis negara Indonesia dapat dibagi menjadi pengelompokan pulau dan kepulauan di Indonesia, gunung berapi yang masih aktif dan non aktif, sungai terpanjang atau terlebar pada setiap propinsi, laut dan lautan, selat, teluk, dan semenanjung yang ada pada setiap pulau. Setiap anggota tim membaca sub-bab yang ditugaskan. Kemudian anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari sub-bab yang sama bertemu dalam kelompok-kelompok ahli untuk mendiskusikan sub-bab mereka. Kemudian para siswa itu kembali ke tim asal mereka dan bergantian mengajar teman 1 tim mereka tentang sub-bab mereka. Karena satu-satunya cara siswa dapat belajar sub-bab lain selain dari sub-bab yang mereka pelajari adalah dengan mendengarkan dengan sungguh-sungguh teman 1 tim mereka, mereka termotivasi untuk mendukung dan menunjukkan minat terhadap apa yang telah dipelajari teman 1 timnya. Modifikasi dari pendekatan ini disebut Jigsaw II (Slavin, 1994), siswa bekerja sama dalam satu tim beranggotakan 4 atau 5 orang seperti pada STAD. Sebagai gantinya setiap siswa ditugasi mempelajari satu sub bab dari sebuah buku, cerita singkat, atau sebuah riwayat hidup. Sementara itu, setiap siswa ditugasi mempelajari suatu topik agar menjadi pakar dalam topik itu. Siswa dengan topik yang sama bertemu dalam kelompok-kelompok ahli untuk mendiskusikan topik tersebut. Setelnh itu mereka kembali ke tim mereka masing-masing untuk secara bergantian mengajarkan apa yang mereka pelajari kepada teman dalam 1 tim mereka. Siswa itu diberi kuis secara individual, yang menghasilkan skor tim seperti pada STAD.
5. Belajar Bersama atau Learning Together.
Belajar bersama atau Learning Together adalah suatu model pembelajaran kooperatif yang dikembangkan oleh David Johnson dan Roger Johnson (I994). Model ini melibatkan siswa yang bekerja dalam kelompok-kelompok beranggota 4 atau 5 orang yang heterogen menangani tugas tertentu. Kelompok-kelompok tersebut menyerahkan 1 hasil kelompok. Mereka menerima pujian dan ganjaran berdasarkan pada hasil kelompok tersebut.
6. Penelitian Kelompok atau Group Investigation.
Penelitian Kelompok atau Group Investigation (Sharan dan Sharan, 1992), merupakan suatu rencana organisasi kelas umum. Di dalam tatanan ini siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil menggunakan inkuiri kooperatif (pembelajaran kooperatif bercirikan penemuan), diskusi kelompok, dan perencanaan serta proyek kooperatif. Setiap kelompok terdiri dari 2 sampai 6 anggota yang dibentuknya sendiri. Setelah memilih beberapa sub topik dari sebuah bab yang sedang dipelajari seluruh kelas, kelompok-kelompok itu memecahkan sub topik mereka menjadi tugas-tugas individual dan melaksanakan kegiatan yang diperlukan untuk mempersiapkan laporan kelompok. Setiap kelompok kemudian membuat presentasi atau peragaan untuk mengkomunikasikan temuannya kepada seluruh kelas.
7. Metode Student Teams Achievement Divisions (STAD)
Metode STAD, adalah salah satu metode yang dapat dipilih dalam pelaksanaan model pembelajaran kooperatif. Metode STAD telah dikembangkan oleh SIavin (1995). Dalam STAD, siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan 4 orang yang merupakan campuran menurut tingkat prestasi, jenis kelamin, dan suku (etnis). Selanjutnya guru menyajikan pelajaran, dan kemudian siswa bekerja di dalam tim mereka untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Akhirnya, seluruh siswa dikenai kuis tentang materi itu; pada waktu kuis ini mereka tidak dapat saling membantu.
Berikut ini (Slavin, 1995; Nur dan Wikandari, 2000) mengemukakan langkah-kangkah melaksanakan metode STAD dalam pembelajaran.
1. Membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok
Dalam 1 kelompok, masing-masing terdiri atas 4 anggota. dan jika jumlah siswa tidak habis dibagi 4, dapat pula 1 kelompok terdiri atas 5 anggota. Mengurutkan mereka dari atas ke bawah berdasarkan kinerja akademik tertentu (misalnya skor tes atau Indeks Prestasi) dan membagi daftar siswa yang telah urut itu menjadi 4. Kemudian 1 siswa dari tiap perempatan itu sebagai anggota tiap tim, perlu dipastikan bahwa tim-tim yang terbentuk itu berimbang menurut jenis kelamin dan asal suku.
2. Guru membuat Lembar Kegiatan siswa (LKS) dan Kuis Pendek
Untuk kepentingan diskusi kelompok pada mata pelajaran yang telah direncanakan diajarkan, guru membuat LKS dan kuis pendek. Selama belajar kelompok (1 atau 2 periode kelas) tugas anggota tim adalah menguasai secara tuntas materi yang dipresentasikan guru dan membantu anggota tim mereka menguasai secara tuntas materi tersebut. Siswa mendapat LKS atau bahan ajar lain yang dapat mereka gunakan untuk latihan ketrampilan yang sedang diajarkan dan menilai diri mereka sendiri dan anggota tim mereka.
3. Penjelasan Pelaksanaan STAD
Pada saat guru menjelaskan STAD kepada kelas, guru membacakan tugas-tugas yang harus dikerjakan tim seperti di bawah ini.
a. Meminta anggota tim bekerja sama mengatur tempat duduk, dan memberi kesempatan 10 menit kepada siswa untuk memilih nama tim mereka.
b. Guru membagi LKS atau bahan ajar lain (dua set untuk tiap tim).
c. Menganjurkan pada tiap-tiap tim bekerja dalam duaan (berpasangan) atau tigaan. Apabila mereka sedang mengerjakan tugas, setiap siswa dalam satu pasangan atau tigaan hendaknya mengerjakan tugas itu dan kemudian saling mengecek pekerjaannya di antara teman dalam pasangan atau tigaan itu. Apabila ada siswa yang tidak dapat mengerjakan tugas itu, teman 1 tim siswa memiliki tanggung jawab untuk menjelaskan tugas itu.
d. Guru menekankan pada siswa bahwa mereka tidak boleh mengakhiri kegiatan belajar sampai mereka yakin bahwa seluruh anggota tim mereka dapat menjawab/mengerjakan tugas 100% benar tugas kuis tersebut.
e. Guru memastikan siswa memahami bahwa LKS itu untuk belajar bukan untuk diisi dan dikumpulkan. Oleh karena itu penting bagi siswa pada akhirnya diberikan umpan balik atas tugas yang telah diselesaikan oleh kelompok.
f. Guru memberi kesempatan pada siswa untuk saling menjelaskan jawaban/pekerjaan mereka.
g. Apabila siswa memiliki pertanyaan, mintalah mereka mengajukan pertanyaan itu kepada 1 timnya, sebelum mengajukan kepada guru.
h. Pada saat siswa sedang bekerja dalam tim, sebaiknya guru berkeliling untuk mengamati dari dekat pada tiap tim secara bergantian.
4. Kuis Individu
Bila tiba saatnya memberikan kuis, guru membagikan kuis atau bentuk evaluasi lain dan memberikan cukup waktu untuk dilesaikan oleh setiap individu.
5. Guru membuat skor individual dan skor tim
Skor tim pada STAD didasarkan pada peningkatan skor anggota tim dibandingkan skor yang lalu mereka sendiri.
6. Guru memberikan pengakuan prestasi tim
Setelah guru menghitung skor untuk tiap siswa dan skor tim, maka guru berkewajiban memberikan pengakuan prestasi tim. Tim yang berprestasi dalam suatu topik atau pokok bahasan yang telah dibelajarkan diberi penghargaan oleh guru. Penghargaan itu dapat berupa pujian atau bentuk yang lain.
Di dalam pelaksanaan metode STAD komposisi dalam kelompok ada yang memiliki kemampuan kognitif tinggi, sedang dan rendah. Mereka yang tergelong kemampuan kognitifnya tinggi, dianggap memiliki kemampuan lebih di atas tingkat perkembangan aktual dibandingkan dengan teman-teman dalam kelompoknya dan mereka berfungsi sebagai perancah (scaffolding). Sedangkan teman-teman yang dibelajarkan berada pada tingkat tertinggi kemampuan potensialnya, mereka ini adalah siswa yang diberi perancah (scaffolding). Hal ini sejalan dengan teori Vy
KOMPONEN PEMBELAJARAN KOOPERATIF
INTERDEPENDENCE POSITIF
Interdependence positif adalah perasaan antar anggota siswa yang membantu anggota kelompok, membantu setiap orang dalam kelompok, dan luka apa saja dari anggota kelompok adalah luka seluruh anggota kelompok. Dengan kata lain, interdependence positif berarti bahwa anggota kelompok merasa bahwa mereka “tenggelam atau berenang bersama-sama”.
Untuk mencapai interdependence antar siswa, hanya menempatkan mereka dalam kelompok dan memerintahkan mereka untuk bekerja sama mungkin tidaklah cukup. Cara untuk mempromosikan saling ketergantungan dalam kelompok termasuk: tujuan, hadiah, aturan, sumber, dan identitas. Masing-masing hal tersebut didiskusikan di bawah.
Tujuan positif interdependence muncul ketika kelompok saling berbagi suatu tujuan umum atau banyak tujuan lain. Sebagai contoh, tujuan mungkin untuk menulis suatu komposisi gabungan, bagi setiap orang untuk mengetahui bagaimana menjelaskan jawaban dari permasalahan matematika, atau untuk belajar untuk mengajak yang lain ketika bekerja di dalam suatu kelompok.
Hadiah positif interdependence muncul ketika setiap hadiah anggota kelompok dipengaruhi oleh hadiah yang diterima anggota lain dalam satu kelompok. Sebagai contoh, setiap siswa bisa mendapatkan poin bonus jika setiap orang dalam kelompoknya memperoleh skor di atas 80% pada tes. Atau, setiap orang dalam kelompok bisa memperoleh ekstra waktu istirahat atau bintang jika proyek keompoknya diselesaikan dengan memuaskan. Hadiah yang digunakan tergantung pada apa motivasi dari kelas tertentu dan filosofi guru terhadap hadiah.
Aturan positif interdependence maksudnya bahwa anggota dibuat aturan saling melengkapi dan saling berhubungan tentang tanggungjawab tertentu yang diperlukan kelompok dengan tujuan untuk menyelesaikan tugas. Aturan ini harus bergiliran, baik dalam satu kegiatan atau kegiatan berbeda. Sebagai contoh, dalam suatu kelompok terdiri atas tiga orang dimana mempunyai tugas membaca satu unit dalam buku teksnya, salah seorang bisa menjadi peringkasnya dari setiap bagian kecil dari unit, yang lain bisa menjadi pengecek yang mengecek akurasi dari ringkasan, dan yang ketiga bisa menjadi elaborator yang memberikan contoh atau menghubungkan materi terhadap apa yang telah diketahui oleh anggota kelompok.
Sumber positif interdependence maksudnya bahwa setiap anggota hanya memiliki porsi informasi, materi, atau kelengkapan yang dibutuhkan untuk melengkapi sebuah tugas. Tugas latihan yang anda lakukan sekarang adalah suatu contoh sumber interdependence, sebab dalam setiap tim rumah, tidak seorangpun memiliki seluruh informasi; masing-masing dari anda memiliki bagian yang berbeda. Jadi, anda harus berbagi sumber untuk berhasil. Contoh lain seperti eksperimen sains dimana anggota kelompok berbeda mempunyai bagian peralatan yang berbeda.
Identitas positif interdependence maksudnya bahwa kelompok berbagi tentang identitas umum. Ini dapat didorong dengan mempersilahkan kelompok memilih namanya, bendera, motto, cara berjabat-tangan, dst. Negara, klub, tim olahraga, dan sekolah menggunakan cara ini atau yang lain untuk usaha membentuk suatu identitas bersama antar warga negaranya, anggota, dan siswa dan staf.
KETERAMPILAN KOLABORATIF
Kebanyakan guru pertama kali meminta kepada siswanya untuk belajar dalam kelompok, dengan cepat menjadi jelas bahwa siswa memiliki keterampilan yang rendah untuk bekerja secara efektif dengan yang lain. Jadi guru mungkin akan mengajarkan keterampilan kolaboratif bersama konten akademis. Keterampilan kolaboratif yang bagus adalah penting tidak hanya sekedar siswa belajar banyak ketika mereka belajar di dalam kelompok; keterampilan itu juga sangat penting untuk kesuksesan di luar sekolah, dengan temannya dan keluarganya, termasuk juga nanti, dalam karirnya.
Guru harus memilih keterampilan untuk ditekankan dalam tiap-tiap latihan kooperatif. Ini mungkin akan berguna untuk menekankan keterampilan yang sama untuk beberapa latihan atau lebih. Ini akan merupakan keterampilan yang dibutuhkan dalam latihan berikutnya.
Ada enam tahap dalam mengajarkan keterampilan kolaboratif. Pertama, siswa harus melihat kebutuhan dari keterampilan. Ini dapat dilakukan dengan menanyakan siswa bagaimana keterampilan dapat muncul dari pengalamannya sendiri, dengan menjelskan mengapa keterampilan itu penting di dalam dan di luar sekolah (sekarang dan yang akan datang), dan melai display ruangan.
Kedua, siswa perlu memahami dengan jelas apa keterampilan itu. Satu jalan untuk mencapai pemahaman adalah bagi kelas untuk mengembangkan daftar seperti apa keterampilan itu dan bagaimana kedengarannya. Sebagai contoh, untuk menjadi pendengar yang baik bisa seperti melihat orang ketika mereka berbicara kepada kita. Ini bisa kedengarannya menggunakan ekspresi seperti “he’e, yah” dan “benar” sementara orang berbicara kepada kita dengan tujuan untuk menunjukkan bahwa kita mengikuti apa yang mereka katakan.
Ketiga, siswa mungkin perlu melatih keterampilan kolaboratif secara terpisah dari isi kelas reguler. Ini bisa dilakukan melalui aktivitas seperti demonstrasi oleh guru, aturan main, dan permainan. Di sini, kedua contoh positif dan negatif dapat digunkan.
Keempat, keterampilan harus terintegrasi ke dalam isi kegiatan pelajaran. Sebagai contoh, jika kelompok bekerjasama pada suatu proyek, mereka dapat diminta untuk menggunakan keterampilan ini, menganjurkan yang lain untuk berpartisipasi. Cara lain untuk melakukan ini adalah bagi anggota kelompok diberikan aturan perputaran berdasarkan pada keterampilan kolaboratif. Sebagai contoh, salah seorang siswa dapat menjadi pemberi pujian, yang lain menjadi penyusun kata-kata, dan seorang ketiga menjadi fasilitator, (bertugas menjaga agar kelompok tetap pada tugas), dan seorang yang keempat dapat menjadi penanya (menanyakan seseorang untuk menjelaskan alasan). Guru dapat berkeliling sekitar kelompok dan mengobservasi penggunaan dari keterampilan yang dirancang, dan siswa dapat juga mengobservasi penggunaannya sendiri dan penggunaan anggota kelompoknya dari keterampilan.
Kelima, pemprosesan interaksi kelompok adalah sangat penting. Bagian ini akan dibahas khusus di bagian berikutnya. Kelima, sekali keterampilan telah diajarkan, guru perlu menyarankan siswa untuk secara tekun dalam penggunaan itu. Pertama kali, menggunakan keterampilan mungkin akan merasa aneh dan seperti dibuat-buat. Ini membutuhkan waktu untuk menjadi cakap menggunakan keterampilan. Cara untuk tekun termasuk memberitahukan kepada orang tua dimana keterampilan kelas sedang dilatihkan dan meminta mereka membantu, membuat seluruh pekerjaan sekolah pada keterampilan yang sama, memberikan tanda, dan mengulang keterampilan yang sudah diajarkan di awal tahun ajaran.
PEMPROSESAN INTERAKSI KELOMPOK
Sebagai bagian dari setiap unit dimana pembelajaran kooperatif digunakan, kesempatan harus diperhatikan setidaknya sekali bagi siswa untuk mendiskusikan sebaik apa kelompoknya bekerja bersama. Pemprosesan interaksi kelompok ini membantu kelompok bagaimana bisa berkolaborasi lebih efektif. Ini dapat dilakukan selama atau di akhir suatu aktivitas.
Pemprosesan interaksi kelompok mempunyai dua aspek. Pertama, sesuatu yang baik tentang fungsi kelompok harus dibawa keluar. Sebagai contoh, anggota tertentu dapat diberi kesempatan pada waktu tertentu, mereka membantu untuk menjelaskan suatu hal sulit untuk teman kelompokknya. Kedua, kelompok harus mendiskusikan apa yang dibutuhkan dalam interaksinya untuk ditingkatkan. Sebagai misal, mereka mungkin merasa bahwa kelompok mereka tidak berada dalam tugas. Di sini sekali lagi, perlu bantuan khusus.
Kadang-kadang, guru akan membutuhkan bahwa keterampilan kolaboratif khusus perlu didiskusikan selama pemprosesan interaksi kelompok. Sebagai misal, guru mungkin meminta siswa untuk berkonsentrasi pada sebaik apa kelompoknya memastikan bahwa setiap anggotanya memahami tentang suatu masalah sebelum melanjutkan kepada yang lain. Proses dibantu jika guru dan siswa melakukan observasi sementara kelompok bekerja bersama.
Ini mudah untuk mengolah pada tekanan waktu dan melewatkan porsi pemprosesan latihan pembelajaran kooperatif. Walau demikian, pemprosesan interaksi kelompok adalah sebuah unsur kunci dari pembelajaran kooperatif sebab ini memberi siswa umpan balik yang berguna pada keterampilan kelompokknya, dan ini memberi tahu siswa bahwa guru menempatkan hal penting pada bagaimana mereka bekerja bersama.
PENGELOMPOKAN SECARA HETEROGEN
Banyak ahli pada pembelajaran kooperatif merekomendasikan bahwa siswa biasanya ditempatkan oleh guru dalam kelompok yang heterogen berdasarkan dimensi pencapaian sebelumnya, ketekunan, etnis dan seks. Mencampur siswa berdasar pencapaian sebelumnya disarankan dengan tujuan untuk mempromosikan pembimbingan sebaya (dimana dapat menguntungkan baik tutor maupun yang dibimbingnya), untuk menyediakan siswa dengan pencapaian rendah dengan model kebiasaan belajar yang baik, dan meningkatkan hubungan antar siswa.
Meningkatnya hubungan adalah juga satu alasan yang diberikan bagi pencampuran siswa dari berbagai etnis dalam kelompok yang sama. Bekerja bersama dalam satu tujuan umum dapat membantu menyelesaikan batas dan membangun persahabatan. Ditambahkan, siswa dari berbagai kelompok etnik sering membawa perspektif unik terhadap diskusi kelompok. Hasil dari berbagai perspektif yang berbeda dapat meningkatkan pola pikir siswa.
Biasanya, kelompok heterogen dapat dicapai dengan baik dengan cara guru memilih siapa dan berada di kelompok mana. Ketika siswa memilih teman kelompokknya sendiri, mereka selalu memilih orang yang mereka sukai. Ini dapat menyebabkan pengelompokan kecil (klik) dan faktor lain yang bekerja melawan hubungan persatuan kelas.
AKUNTABILITAS INDIVIDUAL
Salah satu yang paling umum di dengar keberatan untuk mempunyai siswa bekerja dalam kelompok adalah bahwa beberapa anggota kelompok akan mengakhiri semua pekerjaan dan semua belajar. Ini dapat terjadi karena beberapa siswa mencoba menghindari bekerja atau karena yang lain mau mengerjakan apa saja. Jadi, mengajak setiap orang dalam kelompok untuk berpartisipasi dan belajar adalah perhatian yang nyata. Untuk itu kita membutuhkan setiap orang merasa bahwa mereka secara individual bertanggungjawab demi kesuksesan kelompok mereka.
Ada banyak cara untuk menyusun aktivitas kelompok untuk mempromosikan perasaan akuntabilitas individual ini. Beberapa diantaranya adalah:
1. Setiap siswa secara individual mengikuti quiz, menyelesaikan tugas, atau menulis esai pada materi yang sedang dipelajari.
2. Anggota kelompok dipanggil secara acak untuk menjawab suatu pertanyaan dan/atau menjelaskan jawaban.
3. Setiap anggota kelompok mempunyai aturan yang di disain dimana mereka harus berunjuk kerja. Aturan ini dapat berputar bergantian. Sebagai contoh, suatu bahan bacaan dapat dibagi menjadi beberapa bagian. Anggota dari pasangan masing-masing membaca bagian pertama dengan tenang. Kemudian, salah seorang membuat rangkuman bagian itu dan yang lain membuat hubungan antara bagian dan materi lain dimana kelas pelajari atau dengan aspek kehidupan mereka. Aturan ini bergantian untuk bagian selanjutnya dari bahan bacaan.
4. Setiap anggota secara prinsip bertanggungjawab untuk satu bagian dari proyek kelompoknya.
Sebagai contoh, jika suatu kelompok membuat laporan tentang Korea, salah satu anggota dapat menulis bagian sejarah, yang lain bagian geografi, yang lain lagi bagian seni, dan anggota keemapt bisa menulis bagian tentang ekonomi.
Orang dalam kelompok rumah anda yang mempunyai informasi tentang interdependence positif akan mempunyai lebih banyak ide tentang bagaimana untuk mempromosikan akuntabilitas individual.
ATURAN GURU KETIKA SISWA BERADA DALAM KELOMPOK
Sementara siswa berada dalam kelompokknya, guru dapat berkeliling di antara mereka untuk melihat jika:
(1) kelompok memahami tugasnya;
(2) kelompok memahami isi yang mereka pelajari;
(3) kelompok memnggunakan keterampilan kolaboratif yang tepat (anggota dari kelompok rumah anda mengajarkan dengan lembaran B akan menjelaskan ini kepada anda); dan,
(4) ada beberapa orang membutuhkan bantuan.
DEFINISI PEMBELAJARAN KOOPERATIF
Di bawah adalah dua definisi pembelajaran kooperatif diajukan oleh pimpinan lembaga pendidikan. Keduanya pernah menjadi presiden Asosiasi Internasional untuk Studi Kooperasi dalam Pendidikan, dan keduanya dikenal secara luas dalam penelitiannya, publikasi, dan presentasi pada pembelajaran kooperatif.
Definisi Slavin
Robert Slavin (1990) mengajukan definisi berikut dan kemudian menjadi diskusi kekhasan dari pendekatan yang dia dan koleganya gunakan.
Semua metode pembelajaran kooperatif berbagi ide dimana siswa bekerja bersama untuk belajar dan bertanggungjawab untuk teman kelompok belajarnya sebgimana dia sendiri. Ditambahkan pada ide kerja kooperatif, metode Belajar Kelompok Siswa (keseluruhan nama digunakan untuk metode itu dikembangkan oleh Slavin dan koleganya) menekankan penggunaan tujuan kelompok dan keberhasilan kelompok, dimana dapat dicapai hanya jika semua anggota tim belajar tujuan yang akan diajarkan. Yaitu, dalam Belajar Kelompok Siswa tugas siswa tidak mengerjakan sesuatu sebagai tim tetapi untuk belajar sesuatu sebagai satu tim.
Tiga konsep adalah sentral untuk semua metode Belajar Kelompok Siswa –penghargaan kelompok, akuntabilitas individual, dan kesamaan kesempatan untuk sukses. Tim mungkin mendapatkan sertifikat atau bentuk penghargaan tim lain jika mereka mencapai di atas kriteria yang dirancang. Tim tidak bertanding untuk mendapat sedikit penghargaan; semua (atau tidak sama sekali) dari tim mungkin mencapai kriteria dalam minggu tertentu. Akuntabilitas individual maksudnya bahwa kesuksesan kelompok bergantung pada belajar individual dari semua angota keompok. Tanggung jawab memfokuskan pada aktivitas anggota kelompok pada pembimbingan satu dengan yang lain dan memastikan bahwa setiap orang dalam kelompok siap untuk mengikuti quiz atau asesmen lain dimana siswa mengikutinya tanpa bantuan teman kelompoknya. Kesamaan kesempatan untuk sukses maksudnya bahwa siswa menyumbang pada kelompoknya dengan meningkatkan pada unjuk kerjanya sendiri dari sebelumnya. Ini memastikan bahwa siswa dengan pencapain tinggi, rata-rata, dan rendah sama-sama tertantang untuk melakukan yang terbaik, dan kontribusi seluruh anggota kelompok itu akan berharga.
Beberapa hal penting dalam definisi Slavin harus dicatat:
(1) Ada penekanan pada penghargaan. Ini bukan bagian dari seluruh metode pembelajaran kooperatif. Penghargaan ini adalah suatu makna kunci dari penekanan interdependence mutual (positif).
(2) Penghargaan yang Slavin bicarakan bukan nilai (angka). Nilai (angka) diberikan secara individual. Jadi, sementara seluruh tim menerima penghargaan yang sama, seperti, sebuah sertifikat pencapaian, setiap anggota akan selalu menerima nilai (angka) yang berbeda, seperti, satu anggota tim mungkin menerima nilai A, sementara yang lain mungkin menerima nilai C.
(3) Keterampilan klabotratif tidak secara eksplisit diajarkan.
(4) Kelompok adalah heterogen berdasarkan pada rekor pencapaian siswa sebelumnya.
(5) Akuntabilitas individual ditekankan dengan menekankan quiz secara individual.
Definisi Davidson
Neil Davidson (1990) mendaftar tujuh hal dalam definisinya yang mana lebih ditekankan untuk memperjelas dan generalisasi. Devinisi Davidson menunjukkan perbedaan yang muncul dari berbagai pandangan tentang pembelajaran kooperatif.
1. Suatu tugas yang harus diselesaikan kelompok, diskusi, dan (jika mungkin) pemecahan;
2. Interaksi tatap muka dalam kelompok kecil.
3. Suatu atmosfer kooperasi dan bantuan saling menguntungkan di dalam setiap kelompok;
4. Akuntabilitas individual (setiap orang berbagi dengan yang lain).
Sementara kebanyakan ahli dalam pembelajaran kooperatif menyetujui pada keempat hal pertama, yang lain akan termasuk bebarapa atau semua hal berikut:
5. Kelompok heterogen;
6. Pengajaran keterampilan kolaboratif secara eksplisit;
7. Interdependence yang menguntungkan secara terstruktur.
Kunci dalam #2 adalah bahwa siswa harus berbicara bersama dengan tujuan untuk belajar dari satu dengan yang lain. Pernahkah anda melihat suatu kelompok dimana anggota duduk sebagi bagian dimana anda tahu mereka tidak bekerja untuk kesuksesan kolaboratif?
Kunci perbedaan antara #3 dan #7 adalah bahwa guru ikut campur tangan, seperti, melalui penggunaan teknik pembelajaran kooperatif, untuk mencoba menyarankan siswa untuk bekerja bersama. Dengan kata lain, beberapa guru mungkin merasa bahwa mereka perlu menstruktur tugas untuk mencoba menekan siswa untuk berkooperasi, sebab sebaliknya mereka mungkin tidak berkooperasi.
LANDASAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF
Tulisan ini melihat pada lima metode pembelajaran kooperatif dan filosofi dan teori belajar yang mana membentuk satu bagian dari landasannya.
Mari kita mulai dengan analogi. Banyak orang pergi berenang di laut, tetapi orang yang berbeda tertarik untuk berenang di laut dengan alasan yang berbeda, dan perbedaan ini dapat dilihat dalam mana berbagai macam orang melakukan renangnya. Sebagai contoh, beberapa orang berenang untuk latihan. Orang ini melakukan lomba kecepatan dan selalu melihat pada jam anti-airnya untuk mengecek waktu dan detak jantungnya. Orang lain menyukai berenang karena ini adalah kesempatan untuk santai. Tipe perenang ini dapat selalu dilihat mengambang pada punggungnya dan menatap ke langit. Orang lain tertarik berenag di laut untuk alasan yang berbeda, seperti untuk melihat-lihat kehidupan di laut, untuk bersosialisasi dengan teman, atau untuk kombinasi dari berbagai alasan di atas.
Yang penting adalah bahwa setiap kelompok tertarik untuk berenang oleh aspek yang berbeda terhadap aktivitas yang diinginkan. Juga, untuk masing-masing kelompok, pergi berenang maksudnya melakukan sesuatu yang berbeda dari kelompok lain lakukan ketika mereka ada di dalam air. Dengan cara yang sama, pendidik yang berbeda tertarik (atau tidak tertarik) terhadap pembelajaran kooperatif untuk alasan yang berbeda. Perbedaan ini dicerminkan dalam metode yang mereka gunakan untuk mengiplementasikan pembelajaran kooperatif.
Lima metode pembelajaran kooperatif didiskusikan dalam tulisan ini, bersama dengan landasan konseptualnya:
(1) Group-Invetigation (G-I), dikembangkan oleh Shlomo Sharan dan kolega, berdasarkan pada folosofi John Deway;
(2) Student Teams Achievement Divisions (STAD), dikembangkan oleh Robert Slavin dan kolega, berdasarkan pada psikologi behavioris;
(3) Learning Together(LT), dikembangkan oleh David dan Roger Johson, Jigsaw, dikembangkan oleh Eliot Aronson dan kolega, keduanya berdasarkan pada teori dalam psikologi sosial; dan
(4) MURDER, dikembangkan oleh Donald Dansereau dan kolega, berdasarkan pada psikologi kognitif.
FILOSOFI DEWEY
Mari kita mulai dengan G-I (Sharan & Sharan, 1992). “Pendekatan investigasi kelompok (G-I) pada pembelajaran kooperatif adalah suatu usaha sengaja untuk mewujudkan prinsip-prinsip Dewey dalam suatu set prosedur yang dapat diterapkan di kelas tanpa menyusun ulang keseluruhan lingkungan sekolah dan organisasi dimana Dewey ingin mencapainya. (Sharan, 1987).
Ide utama Dewey (1966) adalah:
1) Siswa harus aktif, belajar dengan melakukan;
2) Belajar harus berdasarkan pada motivasi intrinsik;
3) Pengetahuan adalah berubah, tidak permanen;
4) Belajar harus berhubungan dengan kebutuhan dan ketertarikan siswa;
5) Pendidikan harus memasukkan belajar dengan kerja bersama, perhatian, dan pengertian yang lain. Prosedur demokratis adalah sangat esensial;
6) Belajar harus berhubungan dengan dunia di belakang kelas dan harus membantu meningkatkan dunia itu.
Bagaimana ide Dewey dibangun menjadi G-I? Siswa memilih topiknya sendiri dan dengan kelompok mana mereka akan berada, dengan intervensi dari guru yang memungkinkan untuk memastikan bahwa kunci utama tertampung, topik tidak tumpang tindih, dan kelompok heterogen, berdasarkan data pencapaian siswa sebelumnya, jenis kelamin, dan etnisitas. Selanjutnya, kelompok merumuskan masalah penelitian dan memutuskan bagaimana untuk menyelidiki masalah menggunakan satu divisi kerja. Guru hanya sebagai salah satu sumber dari banyak sumber yang lain. Siswa menaruh hasil dari penyelidikannya ke dalam suatu laporan yang dipresentasikan di kelas. Jadi, kelas adalah kelompok dari kelompok-kelompok, dengan masing-masing kelompok mengajarkan yang lain tentang satu aspek dari topik. Di dalam G-I, tingkat pemikiran yang tinggi diperlukan. Evaluasi dilakukan, “melalui satu pandangan kumulatif dari kerja individual selama pelajaran dilakukan dalam proyek penelitian (Sharan & Hertz-Lazarowitz, 1980).
G-I juga menggunakan banyak prinsip-prinsip kunci psikologi humanistik. Ini bukannya kebetulan, sebagaimana pendidikan humanistik dapat ditunjukkan sebagai kelanjutan gerakan Progresif Dewey. Konsep penting dalam pendekatan humanistik pada pendidikan adalah: meninggalkan penilaian melalui penilaian atau tes, belajar dengan melakukan dan membangun motivasi intrinsik, pilihan siswa, memperlakukan siswa sebagai penanggungjawab dan dapat melakukan, pertanyaan tanpa akhir, menekankan perhatian dan bantuan satu dengan yang lain, dan membangun konsep mandiri yang positif. (Snygg & Combs, 1949).
PSIKOLOGI BEHAVIORIS
Sekarang, mari berpindah ke ujung yang lain dari lanjutan pembelajaran kooperatif dan melihat pada STAD. Berdasarkan suatu reviu pada penelitian tentang pembelajaran kooperatif, Slavin mengemukakan bahwa kemungkinan kelompok adalah esensial jika struktur kelompok kecil adalah untuk meningkatkan pencapaian. Dengan kemungkinan kelompok, Slavin maksudkan bahwa, “tingkah laku satu atau lebih anggota kelompok membawa imbalan kepada suatu kelompok” (Slavin, 1987). Kemungkinan kelompok bekerja dalam dua tahap. Pertama, guru menawarkan hadiah atau hukuman kepada kelompok. Kemudian, anggota kelompok mengaplikasikan hadiah atau hukumna kepada satu dengan yang lain.
Kemungkinan kelompok memotivasi siswa untuk berharap teman kelompoknya bekerja dengan baik. Sebaliknya, Slavin percaya bahwa praktek dalam pendidikan konvensional, seperti membiarkan siswa belajar sendiri dan menilai berdasar suatu kurve, membuat suatu iklim dimana siswa berharap teman kelasnya akan gagal. “Kritik terhadap organisasi kelas tradisional dibuat oleh teori motivasional yaitu penilaian kompetitif…kelas membuat norma pasangan yang menentang upaya akademik” (1990).
Konsep behavioris penting lainnya adalah usaha penguatan (Bandura, 1965). Ini artinya bahwa siswa belajar tidak hanya dengan memperoleh hadiah atau hukuman mereka sendiri, tetapi juga dengan melihat orang lain menerima hadiah atau hukuman. Pembelajaran kooperatif, khususnya siswa dikelompokkan secara heterogen berdasarkan motivasi dan pencapaian sebelumnya, menawarkan banyak kesempatan bagi siswa untuk memberi pengalaman model positif siapa yang diberi hadiah untuk usahanya.
Motivasi dapat dibedakan menjadi dua tipe: intrinsik – berada dari dalam diri seseorang – ekstrinsik – berasal dari luar orang tersebut. Sementara dengan tidak mengabaikan pentingnya motivasi intrinsik, Slavin percaya bahwa motivasi ekstrinsik harus digunakan. ”Siswa menerima sekitar 900 jam pembelajaran setiap tahunnya. Ini tidak realistik untuk diharapkan bahwa ketertarikan intrinsik dan motivasi internal akan menjaganya bekerja secara antusias dari hari ke hari” (Slavin, 1987). Slavin melihat pembelajaran kooperatif sebagai cara yang lebih efisien dalam mengantarkan motivator ekstrinsik.
Beberapa ciri-ciri khusus dari metode pembelajaran behavioris adalah:
1) motivasi intrinsik;
2) tugas pada level kognitif yang rendah;
3) setiap orang mengerjakan hal yang sama;
4) pencapaian adalah tujuan, akan diukur melalui tes obyektif; pengaruh tidak ditekankan;
5) orientasi produk;
6) guru memutuskan apa yang harus dipelajari dan memberi informasi kepada siswa apa yang akan pelajari.
Dalam STAD, guru pertama mengajar pada topik. Kemudian, siswa diatur dalam kelompok yang heterogen dalam mana mereka mempelajari materi yang disediakan oleh guru dalam persiapan untuk mengikuti quiz pada materi itu. Setiap nilai siswa adalah berdasarkan pada skornya sendiri pada quiz. Tetapi, pada waktu yang sama, setiap siswa memberi kontribusi pada skor kelompok. Kontribusi setiap siswa pada skor kelompoknya didasarkan pada sebaik apa mereka mengikuti quiz dibandingkan dengan rata-rata skornya sendiri dari quiz sebelumnya. Jadi, pencapai yang relatif rendah dapat memberi kontribusi sebanyak pencapai yang lebih tinggi pada kelompoknya tanpa mengerjakan sebaik quiz yang dikerjakan oleh teman kelompoknya yang mencapai skor yang lebih tinggi. Skor kelompok digunakan untuk menentukan kelompok mana yang menerima hadiah, seperti sertifikat dan dimasukkan dalam surat kabar.
Sementara Slavin menekankan pentingnya kemungkinan kelompok, dia juga melihat kemenarikan pembelajaran kooperatif dengan perspektif humanistik. Seperti disebutkan di awal, fokus humanis pada keuntungan efektif pembelajaran kooperatif, seperti, meningkatkan rasa percaya diri, meningkatkan hubungan antar etnik. Review Slavin terhadap penelitian mendapatkan bahwa kemungkinan kelompok tidak menjadi penting untuk pencapaian tujuan. Kesimpulan Slavin adalah bahwa “pembelajaran kooperatif mewakili keganjilan tetapi perkawinan yang bahagia antara pendekatam behavioral dan humanistik untuk motivasi kelas” (Slavin, 1987).
PSIKOLOGI SOSIAL
Sekarang, mari lihat pada landasan psikologi sosial dari pembelajran kooperatif. Disini, kedua Learning Together dan Jigsaw termasuk di dalamnya. Konsep kuncinya adalah “interdependence”. Ini sudah diselidiki oleh Deutsch (1949) seorang mentor dari David Johnson yang bersama dengan saudaranya Roger, mengembangkan Learning Together. Interdependence menekankan persepsi orang bagaimana mereka mempengaruhi dan dipengaruhi oleh apa yang terjadi pada yang lain. Deutsch membedakan interdependence menjadi positif dan negatif, dengan kemungkinan ketiga bahwa tidak ada interdependence terjadi antar orang dalam situasi yang diberikan. Dalam penelitiannya, Deutsch menemukan bahwa interdependence positif berkaitan dengan unjuk kerja superior pada ukuran objektif dan subjektif.
Johnson telah mengembangkan pekerjaan ini dengan: 1) Mengembangkan banyak cara menyarankan interdependence positif; 2) Menguji struktur pembelajaran kooperatif ini dalam banyak bentuk; dan 3) Mendeseminasikan konsep di sekitar pendidik.
Sistem Johnson mempunyai lima unsur kunci:
1) interdependence positif;
2) akuntabilitas individual;
3) interaksi tatap muka;
4) mengajarkan ketrampilan kolaboratif;
5) pemrosesan interaksi kelompok.
Penekanan eksplisit bahwa Learning Together menempatkan pada peningkatan fungsionalisasi kelompok adalah satu cara yang penting bahwa metode ini berbeda dari STAD. Ini dapat dilihat dengan jelas dalam unsur empat dan lima: mengajarkan ketrampilan kolaboratif dan pemrosesan interaksi kelompok.
Tanpa menggunakan batasan interdependence ahli psikologi sosial yang lain, Allport (1954), mendeskripsikan konsep yang berhubungan dalam pekerjaan klasiknya The Nature of Prejudice. Allport menyatakan bahwa untuk tujuan saling kontak antara kelompok yang berbeda untuk mengurangi prasangka itu harus antara orang dengan status yang sama diberi sanksi oleh dukungan institusional, dalam pencarian akhir yang umum, dan berhubungan dengan persepsi ketertarikan umum dan kemanusiaan. Allport menekankan bahwa kontak sendiri tidak menunjukkan niat baik sampai dia berbagi tujuan.
Aronson (1975) mengaplikasikan ide ini dalam pengembangan teknik Jigsaw. Dia telah diminta untuk membantu sekolah di kota Amerika untuk meningkatkan hubungan antar siswa dengan perbedaan ras. Aronson melihat di sekolah dan menemukan kelas dengan guru di depan dimana mendidik siswa berkompetisi antar mereka. Lingkungan kompetitif ini (salang ketergantungan negatif) rupanya menjadi penyebab bahwa siswa tidak saling menyukai atau memahami satu dengan yang lain. Malahan, ini menyebabkan tekanan rasial bahkan sampai yang terburuk. Pada waktu yang sama, kompetisi hampir selalu menjadi permainan penghilangan bagi siswa minoritas yang cenderung menjadi kurang nyaman dalam kultur sekolah seperti ini.
Jadi, Aronson melihat bahwa dengan mengubah proses pendidikan sangat diperlukan dengan tujuan agar siswa mengenal satu dengan yang lain sebagai kolaborator (interdependence positif), daripada kompetitor (interdependence negatif). Teknik Jigsaw yang Aronson kembangkan adalah bagian dari perubahan. Dlam Jigsaw, setiap anggota kelompok mempunyai satu bagian informasi yang berbeda yang diperlukan kelompok untuk menyelesaiakan tugas yang diberikan. Hanya satu cara bagi yang lain untuk mendaptkan informasi ini yaitu melalui teman kelompoknya. Kesuksesan kelompok bergantung pada semua anggota kelompok saling membantu untuk memastikan bahwa setiap anggota secara individual telah menguasai semua bagian.
PSIKOLOGI KOGNITIF
Pikologi kognitif, mungkin merupakan pandangan dominan dalam pendidikan saat ini, memfokuskan pada bagaimana manusia mengambilnya, menyimpan, dan memproses apa yang kita pelajari. Para kognitivis mencoba melihat ke dalam pikiran untuk mengembangkan bagaimana berpikir dan belajar dilakuakan. Dua kaum psikologi kognitif, Piaget (1926) dan Vygotsky (1935/1978), menekankan bahwa metode belajar dimana diturunkan dari psikologi kognitif adalah MURDER (Hythecker, Dansereau, & Rocklin, 1988). MURDER adalah naskah enam-langkah didesain untuk digunakan oleh dyads. Tahap-tahap itu adalah:
1. Mengatur Mood yang tepat dengan santai dan memfokuskan pada tugas yang dipelajari.
2. Membaca satu naskah untuk dipahami (Understanding) dengan tanpa ada tekanan untuk mengingatnya.
3. Satu pasangan memberikan rangkuman lisan mengingat kembali (Recalling) materi yang telah dibaca.
4. Mendeteksi (Detecting), oleh pasangan yang lain, kesalahan atau kelalaian dalam rangkuman.
5. Mengelaborasi (Elaborating) oleh kedua pasangan untuk membuat materi lebih hafal. Tahap 2, 3, 4, dan 5 diulang-ulang untuk setiap bagian dari materi yang harus dibaca.
6. Setelah membaca keselurahan naskah, mereviu kembali (Reviewing) oleh kedua pasangan dari seluruh naskah dengan membuat rangkuman-besar dari seluruh naskah.
Dansereau dan koleganya menawarkan banyak kemungkinan penjelasan berdasarkan psikologi kognitif mengapa berbagai tahap dalam MURDER memberi tuntunan kepada pembaca untuk meningkatkan belajarnya. Sebagai contoh, tahap Recalling, Detecting, Elaborating, dan Reviewing mungkin berhubungan dengan pemberian banyak sandi dari teks sebab anggota dari dyad harus dinyatakan dalam bentuk verbal, penjelasan, pengembangan, dan merangkum ide-ide utama dari teks. Juga, disebabkan catatan memfokuskan pada ide utama, daripada menekankan pembaca mencoba mengingat semuanya, memproses informasi mungkin lebih efisien. Ide pembaca memilih untuk memfokuskan adalah satu contoh metakognisi (berpikir tentang dan membuat keputusan pada satu pemikiran), satu kunci wilayah ketertarikan dari banyak ahli psikologi kognitif.
Kemungkinan keuntungan lain dari naskah MURDER adalah bahwa tahap Elaboration mungkin berhubungan dengan pembaca untuk menghubungkan informasi kunci dalam teks dengan apa yang telah mereka ketahui. Maksud dari tulisan ini adalah dalam menjaga ide kognitivis bahwa pengetahuan tersimpan dengan membentuk jalinan informsi yang berhubungan, juga diketahui sebagai skemata.
Kesimpulan, meskipun selalu ada perbedaan penting antara ahli filosofi dan ahli teori dalam belajar di bawah berbagai metode pembelajaran kooperatif, metode ini tidaklah eksklusif satu sama lain. Meski demikian, area umumnya adalah adanya kesenjangan perbedaan. Satu cara untuk mengintegrasikan metode adalah dengan memodifikasinya. Sebagai contoh, Proyek Pengembangan Pemuda di Hawaii dilakukan pelatihan pendidikan guru tentang STAD, yang mungkin paling mudah berhubungan dengn tradisi behavioris, tetapi mengkombinasikan ini dengan pendidkan pada bagaimana mengajarkan keterampilan kolaboratif, satu ide dimana mengikuti jalur Dewey, dan psikologi sosial dan huma
LANDASAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF
Tulisan ini melihat pada lima metode pembelajaran kooperatif dan filosofi dan teori belajar yang mana membentuk satu bagian dari landasannya.
Mari kita mulai dengan analogi. Banyak orang pergi berenang di laut, tetapi orang yang berbeda tertarik untuk berenang di laut dengan alasan yang berbeda, dan perbedaan ini dapat dilihat dalam mana berbagai macam orang melakukan renangnya. Sebagai contoh, beberapa orang berenang untuk latihan. Orang ini melakukan lomba kecepatan dan selalu melihat pada jam anti-airnya untuk mengecek waktu dan detak jantungnya. Orang lain menyukai berenang karena ini adalah kesempatan untuk santai. Tipe perenang ini dapat selalu dilihat mengambang pada punggungnya dan menatap ke langit. Orang lain tertarik berenag di laut untuk alasan yang berbeda, seperti untuk melihat-lihat kehidupan di laut, untuk bersosialisasi dengan teman, atau untuk kombinasi dari berbagai alasan di atas.
Yang penting adalah bahwa setiap kelompok tertarik untuk berenang oleh aspek yang berbeda terhadap aktivitas yang diinginkan. Juga, untuk masing-masing kelompok, pergi berenang maksudnya melakukan sesuatu yang berbeda dari kelompok lain lakukan ketika mereka ada di dalam air. Dengan cara yang sama, pendidik yang berbeda tertarik (atau tidak tertarik) terhadap pembelajaran kooperatif untuk alasan yang berbeda. Perbedaan ini dicerminkan dalam metode yang mereka gunakan untuk mengiplementasikan pembelajaran kooperatif.
Lima metode pembelajaran kooperatif didiskusikan dalam tulisan ini, bersama dengan landasan konseptualnya:
(1) Group-Invetigation (G-I), dikembangkan oleh Shlomo Sharan dan kolega, berdasarkan pada folosofi John Deway;
(2) Student Teams Achievement Divisions (STAD), dikembangkan oleh Robert Slavin dan kolega, berdasarkan pada psikologi behavioris;
(3) Learning Together(LT), dikembangkan oleh David dan Roger Johson, Jigsaw, dikembangkan oleh Eliot Aronson dan kolega, keduanya berdasarkan pada teori dalam psikologi sosial; dan
(4) MURDER, dikembangkan oleh Donald Dansereau dan kolega, berdasarkan pada psikologi kognitif.
FILOSOFI DEWEY
Mari kita mulai dengan G-I (Sharan & Sharan, 1992). “Pendekatan investigasi kelompok (G-I) pada pembelajaran kooperatif adalah suatu usaha sengaja untuk mewujudkan prinsip-prinsip Dewey dalam suatu set prosedur yang dapat diterapkan di kelas tanpa menyusun ulang keseluruhan lingkungan sekolah dan organisasi dimana Dewey ingin mencapainya. (Sharan, 1987).
Ide utama Dewey (1966) adalah:
1) Siswa harus aktif, belajar dengan melakukan;
2) Belajar harus berdasarkan pada motivasi intrinsik;
3) Pengetahuan adalah berubah, tidak permanen;
4) Belajar harus berhubungan dengan kebutuhan dan ketertarikan siswa;
5) Pendidikan harus memasukkan belajar dengan kerja bersama, perhatian, dan pengertian yang lain. Prosedur demokratis adalah sangat esensial;
6) Belajar harus berhubungan dengan dunia di belakang kelas dan harus membantu meningkatkan dunia itu.
Bagaimana ide Dewey dibangun menjadi G-I? Siswa memilih topiknya sendiri dan dengan kelompok mana mereka akan berada, dengan intervensi dari guru yang memungkinkan untuk memastikan bahwa kunci utama tertampung, topik tidak tumpang tindih, dan kelompok heterogen, berdasarkan data pencapaian siswa sebelumnya, jenis kelamin, dan etnisitas. Selanjutnya, kelompok merumuskan masalah penelitian dan memutuskan bagaimana untuk menyelidiki masalah menggunakan satu divisi kerja. Guru hanya sebagai salah satu sumber dari banyak sumber yang lain. Siswa menaruh hasil dari penyelidikannya ke dalam suatu laporan yang dipresentasikan di kelas. Jadi, kelas adalah kelompok dari kelompok-kelompok, dengan masing-masing kelompok mengajarkan yang lain tentang satu aspek dari topik. Di dalam G-I, tingkat pemikiran yang tinggi diperlukan. Evaluasi dilakukan, “melalui satu pandangan kumulatif dari kerja individual selama pelajaran dilakukan dalam proyek penelitian (Sharan & Hertz-Lazarowitz, 1980).
G-I juga menggunakan banyak prinsip-prinsip kunci psikologi humanistik. Ini bukannya kebetulan, sebagaimana pendidikan humanistik dapat ditunjukkan sebagai kelanjutan gerakan Progresif Dewey. Konsep penting dalam pendekatan humanistik pada pendidikan adalah: meninggalkan penilaian melalui penilaian atau tes, belajar dengan melakukan dan membangun motivasi intrinsik, pilihan siswa, memperlakukan siswa sebagai penanggungjawab dan dapat melakukan, pertanyaan tanpa akhir, menekankan perhatian dan bantuan satu dengan yang lain, dan membangun konsep mandiri yang positif. (Snygg & Combs, 1949).
PSIKOLOGI BEHAVIORIS
Sekarang, mari berpindah ke ujung yang lain dari lanjutan pembelajaran kooperatif dan melihat pada STAD. Berdasarkan suatu reviu pada penelitian tentang pembelajaran kooperatif, Slavin mengemukakan bahwa kemungkinan kelompok adalah esensial jika struktur kelompok kecil adalah untuk meningkatkan pencapaian. Dengan kemungkinan kelompok, Slavin maksudkan bahwa, “tingkah laku satu atau lebih anggota kelompok membawa imbalan kepada suatu kelompok” (Slavin, 1987). Kemungkinan kelompok bekerja dalam dua tahap. Pertama, guru menawarkan hadiah atau hukuman kepada kelompok. Kemudian, anggota kelompok mengaplikasikan hadiah atau hukumna kepada satu dengan yang lain.
Kemungkinan kelompok memotivasi siswa untuk berharap teman kelompoknya bekerja dengan baik. Sebaliknya, Slavin percaya bahwa praktek dalam pendidikan konvensional, seperti membiarkan siswa belajar sendiri dan menilai berdasar suatu kurve, membuat suatu iklim dimana siswa berharap teman kelasnya akan gagal. “Kritik terhadap organisasi kelas tradisional dibuat oleh teori motivasional yaitu penilaian kompetitif…kelas membuat norma pasangan yang menentang upaya akademik” (1990).
Konsep behavioris penting lainnya adalah usaha penguatan (Bandura, 1965). Ini artinya bahwa siswa belajar tidak hanya dengan memperoleh hadiah atau hukuman mereka sendiri, tetapi juga dengan melihat orang lain menerima hadiah atau hukuman. Pembelajaran kooperatif, khususnya siswa dikelompokkan secara heterogen berdasarkan motivasi dan pencapaian sebelumnya, menawarkan banyak kesempatan bagi siswa untuk memberi pengalaman model positif siapa yang diberi hadiah untuk usahanya.
Motivasi dapat dibedakan menjadi dua tipe: intrinsik – berada dari dalam diri seseorang – ekstrinsik – berasal dari luar orang tersebut. Sementara dengan tidak mengabaikan pentingnya motivasi intrinsik, Slavin percaya bahwa motivasi ekstrinsik harus digunakan. ”Siswa menerima sekitar 900 jam pembelajaran setiap tahunnya. Ini tidak realistik untuk diharapkan bahwa ketertarikan intrinsik dan motivasi internal akan menjaganya bekerja secara antusias dari hari ke hari” (Slavin, 1987). Slavin melihat pembelajaran kooperatif sebagai cara yang lebih efisien dalam mengantarkan motivator ekstrinsik.
Beberapa ciri-ciri khusus dari metode pembelajaran behavioris adalah:
1) motivasi intrinsik;
2) tugas pada level kognitif yang rendah;
3) setiap orang mengerjakan hal yang sama;
4) pencapaian adalah tujuan, akan diukur melalui tes obyektif; pengaruh tidak ditekankan;
5) orientasi produk;
6) guru memutuskan apa yang harus dipelajari dan memberi informasi kepada siswa apa yang akan pelajari.
Dalam STAD, guru pertama mengajar pada topik. Kemudian, siswa diatur dalam kelompok yang heterogen dalam mana mereka mempelajari materi yang disediakan oleh guru dalam persiapan untuk mengikuti quiz pada materi itu. Setiap nilai siswa adalah berdasarkan pada skornya sendiri pada quiz. Tetapi, pada waktu yang sama, setiap siswa memberi kontribusi pada skor kelompok. Kontribusi setiap siswa pada skor kelompoknya didasarkan pada sebaik apa mereka mengikuti quiz dibandingkan dengan rata-rata skornya sendiri dari quiz sebelumnya. Jadi, pencapai yang relatif rendah dapat memberi kontribusi sebanyak pencapai yang lebih tinggi pada kelompoknya tanpa mengerjakan sebaik quiz yang dikerjakan oleh teman kelompoknya yang mencapai skor yang lebih tinggi. Skor kelompok digunakan untuk menentukan kelompok mana yang menerima hadiah, seperti sertifikat dan dimasukkan dalam surat kabar.
Sementara Slavin menekankan pentingnya kemungkinan kelompok, dia juga melihat kemenarikan pembelajaran kooperatif dengan perspektif humanistik. Seperti disebutkan di awal, fokus humanis pada keuntungan efektif pembelajaran kooperatif, seperti, meningkatkan rasa percaya diri, meningkatkan hubungan antar etnik. Review Slavin terhadap penelitian mendapatkan bahwa kemungkinan kelompok tidak menjadi penting untuk pencapaian tujuan. Kesimpulan Slavin adalah bahwa “pembelajaran kooperatif mewakili keganjilan tetapi perkawinan yang bahagia antara pendekatam behavioral dan humanistik untuk motivasi kelas” (Slavin, 1987).
PSIKOLOGI SOSIAL
Sekarang, mari lihat pada landasan psikologi sosial dari pembelajran kooperatif. Disini, kedua Learning Together dan Jigsaw termasuk di dalamnya. Konsep kuncinya adalah “interdependence”. Ini sudah diselidiki oleh Deutsch (1949) seorang mentor dari David Johnson yang bersama dengan saudaranya Roger, mengembangkan Learning Together. Interdependence menekankan persepsi orang bagaimana mereka mempengaruhi dan dipengaruhi oleh apa yang terjadi pada yang lain. Deutsch membedakan interdependence menjadi positif dan negatif, dengan kemungkinan ketiga bahwa tidak ada interdependence terjadi antar orang dalam situasi yang diberikan. Dalam penelitiannya, Deutsch menemukan bahwa interdependence positif berkaitan dengan unjuk kerja superior pada ukuran objektif dan subjektif.
Johnson telah mengembangkan pekerjaan ini dengan: 1) Mengembangkan banyak cara menyarankan interdependence positif; 2) Menguji struktur pembelajaran kooperatif ini dalam banyak bentuk; dan 3) Mendeseminasikan konsep di sekitar pendidik.
Sistem Johnson mempunyai lima unsur kunci:
1) interdependence positif;
2) akuntabilitas individual;
3) interaksi tatap muka;
4) mengajarkan ketrampilan kolaboratif;
5) pemrosesan interaksi kelompok.
Penekanan eksplisit bahwa Learning Together menempatkan pada peningkatan fungsionalisasi kelompok adalah satu cara yang penting bahwa metode ini berbeda dari STAD. Ini dapat dilihat dengan jelas dalam unsur empat dan lima: mengajarkan ketrampilan kolaboratif dan pemrosesan interaksi kelompok.
Tanpa menggunakan batasan interdependence ahli psikologi sosial yang lain, Allport (1954), mendeskripsikan konsep yang berhubungan dalam pekerjaan klasiknya The Nature of Prejudice. Allport menyatakan bahwa untuk tujuan saling kontak antara kelompok yang berbeda untuk mengurangi prasangka itu harus antara orang dengan status yang sama diberi sanksi oleh dukungan institusional, dalam pencarian akhir yang umum, dan berhubungan dengan persepsi ketertarikan umum dan kemanusiaan. Allport menekankan bahwa kontak sendiri tidak menunjukkan niat baik sampai dia berbagi tujuan.
Aronson (1975) mengaplikasikan ide ini dalam pengembangan teknik Jigsaw. Dia telah diminta untuk membantu sekolah di kota Amerika untuk meningkatkan hubungan antar siswa dengan perbedaan ras. Aronson melihat di sekolah dan menemukan kelas dengan guru di depan dimana mendidik siswa berkompetisi antar mereka. Lingkungan kompetitif ini (salang ketergantungan negatif) rupanya menjadi penyebab bahwa siswa tidak saling menyukai atau memahami satu dengan yang lain. Malahan, ini menyebabkan tekanan rasial bahkan sampai yang terburuk. Pada waktu yang sama, kompetisi hampir selalu menjadi permainan penghilangan bagi siswa minoritas yang cenderung menjadi kurang nyaman dalam kultur sekolah seperti ini.
Jadi, Aronson melihat bahwa dengan mengubah proses pendidikan sangat diperlukan dengan tujuan agar siswa mengenal satu dengan yang lain sebagai kolaborator (interdependence positif), daripada kompetitor (interdependence negatif). Teknik Jigsaw yang Aronson kembangkan adalah bagian dari perubahan. Dlam Jigsaw, setiap anggota kelompok mempunyai satu bagian informasi yang berbeda yang diperlukan kelompok untuk menyelesaiakan tugas yang diberikan. Hanya satu cara bagi yang lain untuk mendaptkan informasi ini yaitu melalui teman kelompoknya. Kesuksesan kelompok bergantung pada semua anggota kelompok saling membantu untuk memastikan bahwa setiap anggota secara individual telah menguasai semua bagian.
PSIKOLOGI KOGNITIF
Pikologi kognitif, mungkin merupakan pandangan dominan dalam pendidikan saat ini, memfokuskan pada bagaimana manusia mengambilnya, menyimpan, dan memproses apa yang kita pelajari. Para kognitivis mencoba melihat ke dalam pikiran untuk mengembangkan bagaimana berpikir dan belajar dilakuakan. Dua kaum psikologi kognitif, Piaget (1926) dan Vygotsky (1935/1978), menekankan bahwa metode belajar dimana diturunkan dari psikologi kognitif adalah MURDER (Hythecker, Dansereau, & Rocklin, 1988). MURDER adalah naskah enam-langkah didesain untuk digunakan oleh dyads. Tahap-tahap itu adalah:
1. Mengatur Mood yang tepat dengan santai dan memfokuskan pada tugas yang dipelajari.
2. Membaca satu naskah untuk dipahami (Understanding) dengan tanpa ada tekanan untuk mengingatnya.
3. Satu pasangan memberikan rangkuman lisan mengingat kembali (Recalling) materi yang telah dibaca.
4. Mendeteksi (Detecting), oleh pasangan yang lain, kesalahan atau kelalaian dalam rangkuman.
5. Mengelaborasi (Elaborating) oleh kedua pasangan untuk membuat materi lebih hafal. Tahap 2, 3, 4, dan 5 diulang-ulang untuk setiap bagian dari materi yang harus dibaca.
6. Setelah membaca keselurahan naskah, mereviu kembali (Reviewing) oleh kedua pasangan dari seluruh naskah dengan membuat rangkuman-besar dari seluruh naskah.
Dansereau dan koleganya menawarkan banyak kemungkinan penjelasan berdasarkan psikologi kognitif mengapa berbagai tahap dalam MURDER memberi tuntunan kepada pembaca untuk meningkatkan belajarnya. Sebagai contoh, tahap Recalling, Detecting, Elaborating, dan Reviewing mungkin berhubungan dengan pemberian banyak sandi dari teks sebab anggota dari dyad harus dinyatakan dalam bentuk verbal, penjelasan, pengembangan, dan merangkum ide-ide utama dari teks. Juga, disebabkan catatan memfokuskan pada ide utama, daripada menekankan pembaca mencoba mengingat semuanya, memproses informasi mungkin lebih efisien. Ide pembaca memilih untuk memfokuskan adalah satu contoh metakognisi (berpikir tentang dan membuat keputusan pada satu pemikiran), satu kunci wilayah ketertarikan dari banyak ahli psikologi kognitif.
Kemungkinan keuntungan lain dari naskah MURDER adalah bahwa tahap Elaboration mungkin berhubungan dengan pembaca untuk menghubungkan informasi kunci dalam teks dengan apa yang telah mereka ketahui. Maksud dari tulisan ini adalah dalam menjaga ide kognitivis bahwa pengetahuan tersimpan dengan membentuk jalinan informsi yang berhubungan, juga diketahui sebagai skemata.
Kesimpulan, meskipun selalu ada perbedaan penting antara ahli filosofi dan ahli teori dalam belajar di bawah berbagai metode pembelajaran kooperatif, metode ini tidaklah eksklusif satu sama lain. Meski demikian, area umumnya adalah adanya kesenjangan perbedaan. Satu cara untuk mengintegrasikan metode adalah dengan memodifikasinya. Sebagai contoh, Proyek Pengembangan Pemuda di Hawaii dilakukan pelatihan pendidikan guru tentang STAD, yang mungkin paling mudah berhubungan dengn tradisi behavioris, tetapi mengkombinasikan ini dengan pendidkan pada bagaimana mengajarkan keterampilan kolaboratif, satu ide dimana mengikuti jalur Dewey, dan psikologi sosial dan humanis.
Referensi
Adapted from: Jacobs, G.M. 1990. January. Foundation of cooperative learning. Paper presented at the annual conference of the Hawaii Educational Research Association, Honolulu.
Allport, G.W. 1954. The nature of prejudice. Cambridge, MA: Addison-Wesley.
Aronson, E., Blaney, N., Sikes, J., Stephan, C., dan Snapp, M. 1975. Busing and rasial tension: the jigsaw route to learning and liking. Psychology Today, 8. 43-59.
Bandura, A. 1965. Influence of models’ reinforcement contingencies on the acquisition of imitative responses. Journal of Personality and Social Psychology, 1. 589-595.
Deutsch, M. 1949. A theory of cooperation and competition. Human Relations, 1. 129-152.
Dewey, J. 1966. Democracy and education. NY: Free Press.
Hythecker, V.I., Dansereau, D.F., dan Rocklin, T.R. 1988. An analisis of the process influincing the structured dyadic learning environment. Educational Psychologist, 23. 23-37.
Johnson, D.W., Johnson, R.T., dan Holubec, E.J. 1993. Circles of Learning (4th edition). Edina, MN: Interaction Book Company.
Kagan, S. 1992. Cooperative learning. San Juan Capistrano, CA: Kagan Cooperative Learning.
Piaget, J. 1926. Language and thaught of child. New York: Harcort, Brace & Wolrd.
Sharan, S. 1987. John Dewey’s psychology of education and cooperative learning. IASCE Newsletter, 8 (1 & 2). 3-4.
Sharan, Y., dan Sharan, S. 1992. Expanding cooperative learning through group investigation. Cholchester, VT: Teachers College Press.
Slavin, R.E. 1987. Cooperative learning: where behavioral and humanistic approaches to classroom motivation meet. The Elementary School Journal, 88. 29-37.
Slavin, R.E. 1990. Cooperative learning: theory, research, and practice. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall.
Snygg, D., and Combs, A. 1949. Individual behaviour: A new frame of reference for psychology. New York: Harper & Row.
Vygotsky, L.S. 1935/1978. Mind in society (M. Cole, V. John-Steiner, S. Scribner, and E. Souberman, eds.). Cambridge, MA: Harvard University Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar